Pengetahuan Lakon

BAB II

PEMELAJARAN

A. KEGIATAN PEMELAJARAN 1

1. Tujuan Pemelajaran

Istilah lakon mengandung cakupan pengertian yang cukup luas, karena tidak saja dikenal di Indonesia, tetapi juga di Asia Tenggara. Pertunjukan di Thailan ada lakon nang nai, lakon nai, lakon nok, lakon jatri dan lakon dukdamban. Sedangkan di Kamboja ada lakon kawl dan lakon bassac (Brandon, terjemahan Sudarsana, 1989:V).

Di kalangan pedalangan pengertian lakon sangat tergantung dalam konteks pembicaraanya. Lakon dapat diartikan alur cerita, hal ini tampak pada ungkapan bahasa Jawa yang berbunyi “lakone kepiye, lakone apa, dan lakone sapa?”. Ungkapan pertama menunjukkan bahwa lakon diartikan sebagai jalan cerita, kemudian dari ungkapan ke dua berarti judul cerita, dan ungkapan terakhir diartikan sebagai tokoh utama dalam cerita (Kuwato, 1990:6).  Berdasarkan dari uraian tentang istilah lakon tersebut dapat ditentukan tujuan khusus dari modul ini yaitu menerapkan lakon fragmen “Sinta Ilang”  dalam pementasan wayang purwa.

2. Uraian Materi

2. 1.  Pengertian Lakon.

Lakon merupakan salah satu kosakata bahasa Jawa, yang berasal dari kata laku artinya perjalanan cerita atau rentetan peristiwa.  Jadi lakon wayang adalah perjalanan cerita wayang atau rentetan peristiwa wayang. Perjalanan cerita wayang  ini berhubungan erat dengan tokoh-tokoh yang ditampilkan sebagai pelaku dalam pertunjukan sebuah lakon. Selain itu dalam perjalanan cerita wayang akan muncul permasalahan, konflik-konflik, serta penyelesaiannya. Rentetan peristiwa cerita wayang yang mengandung permasalahan, konflik-konflik  dan penyelesaiannya ini terbentang dari awal sampai akhir pertunjukan (jejer sampai dengan tancep kayon), dengan ujud kelompok-kelompok unit-unit yang lebih kecil yang disebut adegan. Pada setiap adegan dalam sebuah lakon juga mengandung permasalahan-permasalahan dan konflik-konflik serta penye lesaiannya, tetapi porsinya lebih kecil jika dibandingkan dengan sebuah lakon. Unit adegan yang satu dengan yang lainnya saling terkait baik langsung maupun tidak langsung membentuk satu sistem yang disebuat dengan lakon. Dalam modul untuk jenjang pertama ini, akan menerapkan sebuah cuplikan adegan yang terdiri dari unit-unit adegan dalam satu lakon. Cuplikan adegan ini sering disebut dengan lakon Fragmen.

2. 2. Judul Lakon

Judul lakon adalah suatu nama untuk menunjuk rentetan peristiwa tertentu. Judul lakon berfungsi sebagai pembatas antara satu kelompok peristiwa dengan kelompok peristiwa yang lain. Hal ini tampak jelas apabila judul lakon itu merupakan suatu bagian dari cerita besar seperti Bharatayuda. Peristiwa tentang kepergian Kresna ke Hastina sebagai duta dibatasi dalam cerita Kresna Duta, peristiwa tampilnya Bisma ke medan perang sampai gugur dibatasi dengan judul Bisma Gugur dan lain-lain.

Judul sebagai pembatas kelompok peristiwa ini merupakan hal yang umum berlaku dalam dunia pedalangan, karena pada dasarnya lakon yang ditampilkan oleh dalang adalah bagian atau episode dari cerita yang lebih besar, seperti Mahabarata, Baratayuda, atau Ramayana. Meskipun lakon yang dipentaskan adalah lakon carangan, tetapi lakon itu tentu dikaitkan dengan suatu kehidupan tokoh wayang dalam episode tertentu. Di dalam pedalangan, khususnya Jawa, ada kecenderungan tertentu yang digunakan sebagai dasar penentuan judul lakon seperti di bawah ini.

  1. Judul lakon dengan menyebut atau menunjuk nama tokoh wayang atau benda tertentu yang menjadi pusat seluruh lakon. Dalam judul ini belum ada gambaran tentang peristiwa yang akan tampil dalam seluruh lakon. Judul-judul lakon seperti ini misalnya: Partadewa, Dewaruci, Peksi Dewata, Cekel Endralaya, Kilat Buwana, Gora Dahana, dan Gada Inten.
  2. Judul lakon dengan menyebut nama tokoh wayang tertentu dengan diikuti peristiwa atau keadana, atau perbuatan yang dilakukan oleh tokoh yang telah disebut. Dalam judul jenis ini sudah ada gambaran peristiwa penting yang akan muncul dalam lakon. Lakon seperti ini misalnya: Bisma Gugur, Semar Kuning, Sembadra Larung, Anoman Obong, Semar mBangun Kayangan, Sena Bumbu, Kangsa Adu Jago, dan Rama Tambak, serta Sinta Ilang.
  3. Judul lakon menunjuk bagian dari cerita besar atau peristiwa besar, seperti Wiratha Parwa, dan Bharatayuda.
  4. Judul lakon dengan menunjuk tempat peristiwa, yaitu lakon Bale Sigala-gala.

2. 3.  Pertumbuhan dan Perkembangan Lakon

Repertoar lakon-lakon wayang yang beredar sampai saat ini adalah merupakan warisan budaya dari jaman dahulu.  Berdasarkan data sejarah, meskipun belum dapat diketahui dengan pasti wujud pergelarannya, wayang telah muncul sebagai seni pertunjukan dan digemari sejak abad XI, seperti yang tercantum dalam Kitab Arjuna wiwaha karya Empu Kanwa yang ditulis pada jaman raja Airlangga di Jawa Timur (Hazeu, 1974:41).  Hal itu disebutkan dalam pupuh V bait 5 pada kekawin Arjuna Wiwaha sebagai berikut:

Hananonton ringgit menangis asekal muda hidepan, huwus towin yang walulang inukir molah angucap. Haturning wong tresna wisaya malahantam wikara ritatwanyan maya sahana – hananing bhawa siluman.

Terjemahan:

Ada orang menonton wayang menangis, kalau dipikirkan amat bodoh. Sudah tahu hanya ukiran kulit yang bergerak dan berbicara (disamakan) dengan orang yang dipengaruhi kepuasan indriya, tidak tahu tentang hakekat (yang sesungguhnya) bahwa perbuatan itu khayal dan dusta (Soetarno, 1988:1)

Sedangkan lakon wayang, telah diketahui jauh sebelum itu, yaitu pada tahun 907 seperti yang tersurat pada prasasti Balitung (Zoetmuder, 1983:262-263). Dalam prasasti itu diberitakan adanya sebuah pertunjukan wayang dengan lakon Bima

Kumara yang berkaitan dengan cerita yang dipaparkan dalam Wiratha Parwa. Selain itu diberitakan pula adanya pertunjukan wayang yang berdasarkan cerita Ramayana.  Dengan demikian, dari isi prasasti balitung tersebut dapat diketahui bahwa kedua epos besar yang berasal dari India yaitu wiracarita Mahabarata dan Ramayana telah dipertunjukkan pada masa itu.

Perkembangan selanjutnya di Indonesia, epos Mahabarata dan Ramayana oleh para pujangga dan genius lokal telah dimodifikasi sedemikian rupa (penambahan dan perubahan) dalam kurun waktu yang sangat panjang untuk diselaraskan dengan situasi dan kondisi nilai budaya setempat.  Oleh karena itu terdapat banyak hal yang tidak didapatkan dalam epos Mahabarata dan Ramayana yang asli, seperti tokoh Pancawala. Tokoh Pancawala di Indonesia adalah hasil perkawinan antara Drupadi dengan Puntadewa, padahal dalam Mahabarata India Pancawala adalah putra dari Drupadi dengan kelima Pandawa. Tokoh punakawan Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong juga tidak didapatkan dalam epos India tersebut. Demikian juga lakon carangan termasuk sinkretisme (percampuran antara cerita Ramayana dan Mahabarata didalam lakon pedalang an Jawa) juga tidak diketahui dalam epos Mahabarata dan Ramayana yang asli. Cerita Mahabarata dan Ramayana yang menjadi sumber lakon wayang purwa banyak diketahui ketika Prabu Dharmawangsa Teguh seorang raja yang bertahta di Jawa Timur (991-1007) menterjemahkan beberapa bagian dari Ramayana dan Mahabarata yang berbahasa sansekerta kedalam bahasa Jawa Kuna atau kawi dalam bentuk prosa, diantaranya adalah.

  1. Uttarakanda: berisi tentang leluhur Dasamuka, Dasamuka Lahir, Arjunasasra Bahu, dan cerita tentang Dewi Sinta.
  2. Adiparwa: berisi tentang cerita Dewi Lara Amis, Bale Sigala-gala, Arimba lena, peksi Dewata, Kala Rahu (Rambu Culung atau terjadinya gerhana matahari) dan cerita lahir-lahiran.
  3. Shabaparwa: cerita Pandawa Dadu.
  4. Wirata Parwa: cerita tentang Jala Abilawa dan Wirata Parwa.
  5. Udyogaparwa: berisi tentang Kresna Gugah.
  6. Bisma Parwa: berisi tentang Bisma Gugur (Poerbatjaraka, 1952:8-11).

Selain prabu Dharmawangsa Teguh, Raja Kediri, Majapahit, Demak, Kartasura, dan Surakarta juga banyak menghasilkan karya-karya sastra yang diantaranya berisi lakon-lakon wayang, misalnya lakon Kresna Kembang diambil dari kitab Kresnayana; lakon Ciptaning dari Kitab Arjuna Wiwaha; lakon Dasarata Lahir dari Kitab Sumanasantaka; Batara Gana Lahir diambil dari Kitab Smaradahana dan lain sebagainya. Walaupun judul-judul lakon yang bersumber dari serat-serat tersebut telah diketahui, tetapi sampai kurun waktu tertentu bentuk atau wujud lakon dalam pakeliran yang meliputi teknis pakeliran, alur lakon, bangunan lakon dan garap lakonnya belum dapat diketahui gambarannya.

Wujud lakon di dalam pakeliran dapat diketahui setelah munculnya pakem pedalangan pada awal tahun 1930-an untuk panduan siswa pedalangan yang diprakarsai oleh keraton Surakarta, Yogyakarta, dan Mangkunegaran. Wujud pakeliran sebelum dan sesudah adanya pakem selalu mengalami perubahan baik bentuk maupun isinya. Perubahan itu terjadi karena interpretasi masing-masing dalang dari tiap-tiap generasi terhadap masalah-masalah kemanusiaan berbeda sesuai dengan tingkat kedewasaannya.

Pada masa seputar kemerdekaan pementasan wayang terkait erat dengan kegiatan ritual seperti suran, sedekah bumi, sadranan, dan lain-lain, maka lakon-lakon wayang yang beredar pada saat itu adalah lakon-lakon ruwatan seperti sudamala, Tundhungkala, Murwakala, Babad Wanamarta, Udan mintaya dan lain-lain. Jumlah repertoar lakon pada dewasa ini sulit diketahui dengan pasti. Lakon-lakon wayang yang dipentaskan para dalang khususnya di Surakarta, pada umumnya mengambil dari lakon yang disusun Mangkunegara VII (1830-1836) yang terkenal dengan nama “Serat Pedalangan Ringgit Purwa”, terdiri dari 37 bab dan berisi 177 lakon. Kemudian oleh M. B Jayeng Taryono ditambah  tiga lakon, sehingga menjadi 180 yang terbagi dalam lima jaman, antara lain:

  • 7 lakon menceritakan Dewa-dewa
  • 4 lakon mengenai Lokapala
  • 4 lakon ceritera Arjuna Sasra Bahu
  • 18 lakon menceriterakan Rama
  • 147 lakon menceritakan Pandawa dan Kurawa.

Selain lakon-lakon baku yang sudah ada pada serat-serat seperti yang telah disebut di depan, juga ditambah munculnya lakon-lakon baru yang disebut lakon carangan(Feinstein, 1986: xxxiii). Lakon carangan yang dibuat pada dekade 60-70-an terdapat 116 judul lakon 21 diantaranya adalah lakon wahyu yaitu: Wahyu Darma, Dewandaru, Golek Kencana, Jatmika, Jayaningrat, Kas tuba Urip, Legundhi Wulung, Linggamaya, Makutha Kencana, Pancadarma, Wahyu Pandhu dados Ratu, Panunggal Jati, Sabuk Gendam Pamungkas, Sapta maya, Sasangkamulya, Sihnugraha, Terate Mas, Tohjali, Tohjali Abadi, Triangga dan Witing Swarga Wohing Mardika (Feinstein, dkk, jilid III, 1986:viii-ix).

Lahirnya lakon-lakon carangan ini merupakan ekspresi seniman dalang yang terpacu oleh faktor internal dan eksternal untuk memenuhi tuntutan jaman.  Hal ini disebabkan karenalakon-lakon yang ada kemungkinan tidak lagi dapat menampung permasalahan-permasalahan yang ada di masyarakat.

2. 4. Penggolongan Jenis Lakon

Jenis repertoar lakon digolongkan berdasarkan judul-judul lakon dan dan peristiwa terpenting yang terjadi dalam suatu kelompok lakon.  Jenis lakon yang didasarkan atas judul lakon digolongkan menjadi jenis kelahiran, raben, alap-alapan, gugur atau lena, mbangun, jumenengan, wahyu, nama tokoh, banjaran dan duta. Sedangkan penetapan jenis lakon berdasarkan peristiwa penting yang terjadi dalam suatu kelompok lakon antara lain jenis paekan, kraman, asmara, wirid, ngenger, kilatbuanan, perang ageng dan boyong. Selanjutnya akan diuraikan masing-masing jenis lakon yang digolongkan berdasarkan kedua kriteria tersebut.

  1. a. Penggolongan Berdasar Judul Lakon
  1. Jenis kelahiran: ciri pokok jenis kelahiran adalah bahwa dalam lakon ini terjadi kelahiran seorang tokoh wayang, contoh: Duryudana Lahir, Abimanyu Lahir, Kangsa Lahir, Gathutkaca Lahir, Wisanggeni Lahir dan lain-lain.
  2. Jenis raben: dalam lakon ini terjadi peristiwa perkawinan antara tokoh wayang, misalnya: Partakrama, Rabine Gatutkaca, Palasara Krama, Irawan Rabi, dan lain-lain.
  3. Jenis alap-alapan: dalam jenis alap-alapan ini terjadi perebutan putri raja antara para satriya atau raja dari berbagai tempat misalnya, alap-alapan sukesi, alap-alapan Durgandini, alap-alapan Dursilawati, alap-alapan Setyaboma dan lain-lain. Mirip dengan lakon alap-alapan ini adalah lakon sayembara, misalnya Gandamana Sayembara, Sayembara Kasipura, dan Sayembara Mantili
  4. Jenis gugur atau lena: dalam lakon ini terdapat peristiwa meninggalnya seorang tokoh., misalnya Abimanyu Gugur, Salya Gugur, Dasamuka Lena, Kangsa Lena dan lain-lain.
  5. Jenis mbangun: ciri pokok lakon jenis mbangun adalah adanya kegiatan pembangunan disuatu tempat, misalnya mBangun Taman Maerakaca, Semar mBangun Gedong Kencana, Semar mBangun Klampis Ireng, mBangun Candhi Sapta Arga.
  6. Jenis Jumenengan: didalam lakon ini terjadi peristiwa pengukuhan atau penetapan seorang tokoh menjadi raja misalnya Jumenengan Parikesit, Jumenengan Puntadewa, Jumenengan Kakrasana, dan lain-lain.
  7. Jenis Wahyu: isi pokok lakon jenis wahyu adalah peristiwa pemberian anugerah (wahyu) dari dewa kepada seorang tokoh tertentu karena keber hasilan atau jasa tokoh kepada Dewa. Contoh Wahyu Eka Bawana, Wah yu Purbasejati, Wahyu Trimanggala, Wahyu Payung Tunggul Naga dan sebagainya.
  8. Jenis nama tokoh: ciri jenis nama tokoh yang dimaksudkan adalah reper toar lakon yang diberi judul dengan hanya menyebut nama tokoh wayang dan nama tokoh ini biasanya tokoh utama dalam peristiwa lakon, contoh nya Begawan Kilat Buwana, Begawan Lomana, Mayangkara begawan Ciptaning, Watu Gunung, Begawan Dwihastha dan lain-lain.
  9. Jenis Banjaran: adalah penggabungan beberapa lakon yang mencerita kan seseorang dari lahir sampai dengan mati dalam satu kesatuan pen tas, misalnya Banjaran Bima, Banjaran Karna, Banjaran Gatutkaca, Banja ran Bisma, Banjaran Srikandhi, banjaran Anoman dan lain sebagainya.
  10. Jenis Duta: ciri lakon jenis duta adalah adanya seorang tokoh wayang yang mendapat tugas menjadi duta dariseorang raja agar dapat menye lesaikan suatu masalah, contoh Anoman Dhuta, Kresna Dhuta, Drupada Dhuta, Anggada Dhuta dan lain-lain.

b. Penggolongan jenis lakon berdasarkan peristiwa penting

  1. Jenis paekan: ciri lakon jenis paekan adalah adanya rencana secara licik seseorang atau kelompok tokoh wayang untuk mencelakakan tokoh wayang lain misalnya Gandamana Luweng, Gathutkaca Sungging, Sinta Ilang, Kresna Cupu dan lain-lain.
  2. Jenis kraman: ciri lakon jenis kraman adalah adanya peristiwa pemberon takan atau makar baik terang-terangan atau terselubung misalnya Braja denta Mbalela, Kangsa Adu Jago, dan Jagal Abilawa.
  3. Jenis asmara: ciri lakon jenis asmara adalah adanya kisah pokok tentang seorang tokoh wayang yang jatuh cinta terhadap lawan jenisnya, misalnya Sembadra Larung, Petruk Gandrung, Irawan Maling dan lain-lain.
  4. Jenis wirid: ciri pokok jenis wirid adalah mengisahkan seorang tokoh wayang yang mendambakan hakekat kehidupan yang sempurna. Contoh: Kunjarakarna, Bima Suci, Ciptawening, Dewa Ruci, dan lain-lain.
  5. Jenis ngenger: jenis lakon ngenger ini mengisahkan adanya seorang tokoh wayang yang ingin mengabdikan diri kepada suatu negara atau raja. Contoh: Sumantri Ngenger, Wibisana Suwita, dan Trigangga Suwita.
  6. Jenis kilatbuwanan: yang digolongkan jenis kilatbuwanan ini adalah lakon-lakon yang memiliki ciri-ciri alur cerita mirip lakon kilat buwana. Adapun ciri-ciri itu adalah adanya pendeta di Hastina yang sanggup membatalkan perang baratayuda dengan sarana membunuh tokoh penting yang berpihak kepada pandawa, seperti Kresna, Anoman, Semar beserta anak-anaknya. Tokoh-tokoh yang akan dibunuh ini selalu terhindar dari kematian dan beralih rupa menjadi pendeta. Pendeta baru tersebut dapat membuka kedok pendeta palsu di Hastina yang merupakan penyamaran dari Bathara Guru, Durga, Rahwana atau Kala. Contoh Begawan Lomana, Begawan Warsita Jati, Kresna Cupu dan lain-lain.
  7. Jenis perang ageng: Jenis lakon perang ageng adalah mengisahkan adanya tragedi perang besar serta melibatkan tokoh-tokoh penting. Contonya Baratayuda (Pandawa melawan Kurawa), Pamuksa (Tremboko melawan Pandhu), Guntarayana (Ciptaning melawan Niwata Kawaca), Gojali Suta (Kresna melawan Bomanarakasura) dan lain-lain.
  8. Jenis Boyong: ciri lakon boyong adalah mengisahkan adanya perpindahan seseorang atau kelompok tokoh wayang dari satu tempat ke tempat lain, contoh Srimulih, Pandhawa Boyong, Sinta Boyong, Semar Boyong dan lain-lain.

2. 5. Penyajian Alur dan Garap Lakon.

a. Bangunan Lakon.

Bangunan lakon adalah kerangka garis besar lakon yang berupa urutan adegan dan peristiwa yang terjadi dalam seluruh lakon. Penampilan repertoar lakon yang disajikan oleh para dalang saat ini masih mengacu pada bangunan (struktur) lakon atau urutan adegan pakeliran tradisi keraton yang seakan-akan telah menjadi baku. Sajian pakeliran baik ringkas maupun utuh, baik yang berdurasi waktu kurang lebih tujuh jam atau kurang dari itu, dibagi menjadi tiga bagian besar periode waktu, yaitu: bagian nem atau bagian pathet nem, bagian sanga atau bagian pathet sangan, dan bagian manyura atau bagian pathet manyura. Masing-masing bagian pathet mempunyai pola susunan adegan secara berurutan, terutama pada bagian pathet nem yang hampir tetap dalam setiap sajian lakon.

Bangunan lakon atau urutan adegan lengkap menurut tradisi keraton Surakarta adalah sebagai berikut:

  • Bagian Pathet Nem terdiri atas  adegan
  1. Jejer atau adegan pertama, dilanjutkan babak unjal, bedholan dan gapuran.
  2. Kedatonan, dilanjutkan Limbukan.
  3. Paseban Jaba, dilanjutkan budhalan, kapalan, pocapan kereta, dan atau gajah, serta perang ampyak.
  4. perang gagal.
  5. 1. Sanga sepisan dapat berupa adegan pertapan, ksatriyan, alas, atau goro-goro.
  6. 2. Perang kembang.
  7. Sintren atau sanga pindho, atau magag, dan
  8. Perang sampak tanggung.
  • Bagian pathet sanga terdiri atas adegan:
  • Bagian pathet manyura terdiri atas adegan:
  1. Manyura kapisan.
  2. Manyura kapindho,
  3. Manyura katelu,
  4. Perang brubuh,
  5. Tayungan, dan diakhiri
  6. Tancep kayon, dan atau Golekan (Bambang Murtiyoso, 1982:28-29).

Bangunan lakon seperti tersebut di atas merupakan tradisi pakeliran keraton Surakarta yang menyelenggarakan pengajaran pedalangan padhasuka (Pasinaon Dhalang Surakarta) pada tahun 1923 yang berpengaruh luas di kalangan dalang di luar keraton.

2. 6 Adegan Tambahan dan Adegan Sisipan

Adegan tambahan dalam bangunan lakon (pakem) telah banyak mengalami perubahan. Adegan tambahan pada pertunjukan wayang saat ini terletak sebelum jejer atau sebelum adegan pertama. Misalnya lakon Bima Suci, menjelang jejer pertama telah disajikan  bagian dari lakon sebelumnya yaitu Dewa Ruci. Adegan tersebut melukiskan Bratasena meninggalkan saudara-saudaranya ketika akan berangkat ke samudra, sampai pada pertarungannya melawan Naga Nemburnawa.  Setelah adegan sisipan ini selesai baru kemudian disusul adegan jejer pertama.

Tujuan ditampilkannya adegan sisipan ini adalah untuk menghatarkan penonton kepada lakon yang akan digelar. Satu adegan ini apabila dipentaskan dalam satu pertunjukan maka dapat disebut lakon fragmen.

2. 7 Makna lakon

orang Jawa yang memilih sebuah repertoar lakon untuk disajikan dalam keperluan apapun selalu mengharap keselamatan dan anugerah Sang Maha Kuasa. Sajian suatu repertoar lakon dalam pertunjukan wayang khususnya untuk hajatan seperti khitan, perkawinan dan lain-lain dipersyaratkan agar lakon yang dipentaskan dapat membawa kebaikan terhadap keluarga dan lingkungan penanggap wayang. Hal ini berkaitan dengan kepercayaan Jawa bahwa peristiwa yang terjadi di atas kelir akan berpengaruh terhadap kehidupan nyata (V.M. Clara Van Groenendael, 1987:165). Dengan demikian untuk keperluan hajatan suatu keluarga tidak akan dipentaskan repertoar lakon yang meng gambarkan peristiwa kesengsaraan misalnya: Samba Juwing, Sembadra Larung, Anoman Obong, Pandhu Papa, dan sebagainya. Sebaliknya akan dipilih lakon yang sesuai dengan keperluan hajatannya, seperti: hajat mitoni disajikan lakon-lakon kelahiran; hajat perkawinan disajikan lakon-lakon raben dan lakon-lakon jenis wahyu. Harapan tuah baik lakon yang dipersyaratkan penanggap wayang untuk hajatan keluarga seringkali divisualkan para dalang lewat tokoh wayang tertentu (biasanya Semar atau Kresna) pada adegan akhir menjelang tancep kayon.

3. Tugas

1.  Jelaskan penggolongan lakon berdasarkan judulnya.

2.  Jelaskan yang menjadi dasar untuk menentukan judul lakon.

3.  Pada umumnya para dalang menggunakan repertoar lakon  yang disusun  oleh Mangkunegara VII, jelaskan perincian-perinciannya.

4.  Apa saja  bangunan lakon yang ada pada bagian pathet nem menurut tradisii Surakarta.

4.  Kunci Jawaban Tugas

1. Jenis kelahiran, raben, alap-alapan, gugur, mbangun, jumenengan, wahyu, nama tokoh, banjaran, dan jenis duta.

2.  a. Judul lakon dengan menyebut nama tokoh wayang.

b. Judul lakon dengan menyebut nama tokoh dengan diikuti peristiwanya.

c. Judul lakon dengan menunjuk bagian cerita atau peristiwa besar

d. Judul lakon dengan menunjuk tempat peristiwa.

3. Perincian-perinciannya adalah, 7 lakon menceritakan dewa-dewa, 4 lakon mengenai Lokapala, 4 lakon ceritera Arjunasasrabahu, 18 lakon menceritaka Rama dan 147 lakon menceritakan Pandawa dan Kurawa.

4.  Bangunan lakon yang ada bagian pathet nem adalah

a.  Jejeratau adegan pertama, dilanjutkan babak unjal, bedholan dan gapuran

b.  Kedatonan dilanjutkan Limbukan.

c.  Paseban Jaba budhalan, kapalan, pocapan kreta  dan perang ampyak.

d.  Perang Gagal.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: